Senin, 25 Februari 2013

Laporan Kimia Pembuatan Larutan


KEGIATAN 1
PEMBUATAN LARUTAN
A.    Pelaksanaan
Hari/tanggal                : Sabtu, 17 November 2012
Waktu                         : 11:00-selesai
Tempat                        : Laboratorium IPA IAIN Mataram

B.     Landasan Teori
1.      Larutan
Larutan merupakan campuran homogeny antara dua atau lebih zat berbeda jenis. Ada dua komponen utama pembentuk larutan, yaitu zat terlarut (solute), dan pelarut (solvent).
Fasa larutan dapat berupa fasa gas, cair, atau fasa padat bergantung pada sifat kedua komponen pembentuk larutan. Apabila fasa larutan dan fasa zat-zat pembentuknya sama, zat yang berbeda dalam jumlah terbanyak umumnya disebut pelaryt sedangkan zat yang lainnya swbagai xat terlarutnya. (Drs. Mulyono HAM, M.Pd.: 1)
Berdasarkan wujud zat terlarut dan zat pelarut, larytan dapat dibagi atas tujuh macam. Dari tiga jenis wujud zat seharusnya terbentuk Sembilan macam larutan, tetapi zat berwujud padat dan cair tidak dapat membentuk larutan dalam pelarut berwujud gas. Partikel yang berwujud padat dan cair dalam zat lain yang berwujud gas akan membentuk campuran heterogen. (Drs. Syukri S.: 352)
Selain itu, masih ada beberapa macam pergolongan lain terhadap larutan. Berdasarkan banyak jenis zat yang menyusun larutan, dikenal larutan binner (tersusun dari 2 jenis zat), larutan terner (3 jenis zat penyusun), larutan kuartener (4 jenis zat penyusun), dan seterusnya.
Menurut sifat hantaran listriknya, dikenala dengan larutan elektrolit (larutan yang dapat menghantarkan arus listrik), dan larutan non elektrolit (larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik). Sedangkan ditinjau dari segi kemampuan suatu zat melarut ke dalam sejumlah pelarut pada suhu tertentu, dikenal:
a.       Larutan tak jenuh (unsanturated-solution), larutan yang masih dapat melarutkan sejumllah zat terlarutnya.
b.      Larutan jenuh (saturated-solution), larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah maksimal pada suhu tertentu.
c.       Larutan lewat-jenuh (supersaturated-solution), larutan yang mengandung zat terlarut melebihi jumlah maksimalnya. (Drs. Syukri S.: 352)
2.      Kosentrasi Larutan
Kosentrasi larutan adalah perbandingan jumlah zat terlarut dengan pelarut. Beberapa satuan kosentrasi, yaitu fraksi mol, molar, molal, dan normal, serta ditambah dengan persentase massa, persen volume, dan ppm
a.       Fraksi mol
Fraksi mol (X) adalah perbandingan mol salah satu komponen dengan jumlah mol semua komponen. Jika suatu larutan mengandung zat A, B, dan C dengan jumlah mol masing-masing , , dan  maka fraksi mol masing-masing komponen adalah
 =     =    =
 =  +  +  (Drs. Syukri S.: 352)
b.       Molaritas (M)
Satu molar, atau 1 M larutan didefinisikan sebagai 1 mol suatu zat terlarut di dalam 1 liter larutan, atau 1mmol zat itu terlarut dalam 1 mL larutan. Secara umum apat dinyatakan menurut hubungan berikut:
Molaritas zat =  =
Persamaan diatas dapat diubah sebagai berikut:
Molaritas zat =
Dimana : w = massa zat (dalam g), Mr = massa molekul relative zat (dalam g/mol), dan V = volum larutan (dalam mL)
c.       Molalitas (m)
Satu molal, atau 1 m larutan didefinisikan sebagai 1 mol zat terlarut di dalam 1000 g pelarut. Secara umum dapat berlaku:
Molalitas zat =   atau  Molalitas =
Dimana: w = massa zat (dalam gram), Mr = massa molekul relative (dalam g/mol), dan  = massa pelarut (dalam gram).
d.      Persen massa (%(b/b))
%(massa) =  100%
%(massa) =  100%
e.       Persen volume (%(v/v))
%(volum) =  100%
%(volum) =  100%


f.       Parts Per Milion (ppm)
Untuk larutan antara dua zat penyusunnya dapat dinyatakan menurut hubungan berikut:
Ppm =  
Untuk larutan dengan lebih dengan lebih dari dua zat penyusunnya satuan kosentrasi ppm dapat dirumuskan sebagai:
Ppm =  
3.       Pengenceran Larutan
Prosedur laboratorium dalam kimia analitik sering kali mensyaratkan pengambilanalikout dari sebuah larutan standard an mengencerkannya menjadi volume yang lebih besar dalam botol volumetric. Teknik ini terutama berguna dalam prosedur spektrofotometrik untuk menyesuaikan kosentrasi zat terlarut, sehingga galat pengukuran absorbansi larutan dapat diminimalkan.
Perhitungan yang melibatkan pengenceran bersifat langsung dan simpel. Karena tidak ada reaksi kimia yang terjadi, jumlah mol larutan dalam larutan asli harus sama dengan mol dalam larutan final. Contoh berikut ini mengambarkan perhitungan tersebut.
Larutan  sebesar 0,0200 M dipersiapkan dengan melarutkan sejumlah garam dalam 1 liter botol volumetric. Dan botol tersebut dipenuhi  dengan air sampai tanda yang ada. Hitung molaritas larutan ini dalam 500 mL botol.
Kita tahu bahwa  =

Sehingga
25,0 x 0,0200 = 500 x
 = 0,00100 mmol/mL
Terkadang mahasiswa mungkin pernah mendengar ungkapan larutan telah menjalani “20 kali pengenceran”. Ini berarti bahwa kosentrasi telah dikurangi dengan factor 25,0/500, atau 1/20. (R.A Day, JR. & A.L. Underwood: 53-54)
C.    Alat dan Baha

Alat-alat
Bahan-bahan
1.      Timbangan analitik
2.      Sendok
3.      Gelas arloji
4.      Labu ukur 100 ml
5.      Pipet tetes
6.      Gelas kimia
1.      NaOH Pellet
2.      NaCl
3.      Aquades
4.      Kertas saring
5.      HCl pekat
6.       pekat
7.      Alkohol 95%

D.    Cara Kerja
Pembuatan Larutan
1.      Menghitung berapa  gram senyawa yang harus ditimbang kemudian dilarutkan ke dalam labu takar 100 ml
2.      Menimbang sejumlah zat telah dihitung
3.      Melarutkan dalam labu takar 100 ml sejumlah zat yang telah ditimbang tersebut
4.      Mencatat hasil dari kelompok lain berupa berapa gram zat yang ditimbang.
1.      Pengenceran
a.       Hubungan pengenceran molar (M)
Membuat larutan 50 mL HCl 3 M dari HCl 37% (pekat)
1.      Menentukan kosentrasi larutan induk, HCl pekat, dengan memperhatikan :
·         Presentase, 37% (b/b)
·         Massa jenis (mj) larutan induk 1L = 1,19 kg) artinya (d = 1,19 g/ml)
·         Mr
Kosentrasi larutan induk dapat dicari dengan persamaan
2.      Melakukan pengenceran dengan persamaan
Keterangan
  = Volume HCl pekat yang akan kita perlukan untuk diencerkan
 = Molaritas larutan HCl pekat
  = 50 mL (volume larutan yang akan kita buat)
 = 3 M (kosentrasi larutan yang akan kita buat)
Maka:  = 
3.       kemudian memasukkan kedalam labu ukur 50 mL, yang sebelumnya labu ukur tersebut diisi sejumlah kecil aquades. Setelah  atau larutan HCl pekat tersebut dimasukkan dalam labu, kemudian ditambahkan aquades sampai tepat tanda batas.
4.      Labu ditutup kemudian dibolak-balik sampai larutan sempurna.
5.      Menulis label tentang nama dan konsentrasi larutan.
b.      Hubungan Pengenceran Persen (%)
Membuat 50 mL alkohol 70% (v/v) dari alkohol 95% (v/v) yang tersedia
1.      Menyiapkan larutan alkohol 95% dan menetapkan :
·          = 50 mL
·          = 70%
·          = ….mL
·          = 95%
2.      Menentukan  dengan persamaan =
3.      Memasukkan  ke dalam labu ukur 50 mL, kemudian ditambahkan aquades sampai tepat tanda batas.
4.      Menutup labu, kemudian dikocok.
5.      Member label pada labu tentang jenis dan kadar larutan.

E.     Hasil Pengamatan

Table pengamatan

Kelompok
Gram NaCl
Gram NaOH
% NaCl
M NaOH
I
0,5
3
0,5
0,75
II
1
2
1
0,5
III
1,5
1
1,5
0,25
IV
2
0,8
2
0,2
V
2,5
0,6
2,5
0,15
VI
3
0,4
3
0,1

F.     Analisis Data
1.      Pembuatan larutan dengan kosentrasi persen berat, %(b/b) dan molaritas (M)
a.       Kelompok I
Diketahui
Gr NaCl    = 0,5
V               = 100 mL
M NaOH   = 0,75
Mr NaOH  = 40
Ditanya
%massa     = …?
Gr NaOH   = …?
Penyelesaian
%massa =  100 =  100 = 0,5
M =  
= 0,75 =  
= 0,75 = 10 x
=  =
= 0,075 =
gr = 0,075 x 40 = 3         
b.      Kelompok II
Diketahui
Gr NaCl    = 1
V               = 100 mL
M NaOH   = 0,5
Mr NaOH  = 40
Ditanya
%massa     = …?
Gr NaOH   = …?
Penyelesaian
%massa =  100 =  100 = 1
M =  
= 0,5 =  
= 0,5 = 10 x
=  =
= 0,05 =
gr = 0,05 x 40 = 2
c.       Kelompok III
Diketahui
Gr NaCl    = 1,5
V               = 100 mL
M NaOH   = 0,25
Mr NaOH  = 40
Ditanya
%massa     = …?
Gr NaOH   = …?
Penyelesaian
%massa =  100 =  100 = 1,5
M =  
= 0,25 =  
= 0,25 = 10 x
=  =
= 0,025 =
gr = 0,025 x 40 = 1
d.      Kelompok IV
Diketahui
Gr NaCl    = 2
V               = 100 mL
M NaOH   = 0,2
Mr NaOH  = 40
Ditanya
%massa     = …?
Gr NaOH   = …?
Penyelesaian
%massa =  100 =  100 = 2
M =  
= 0,2 =  
= 0,2 = 10 x
=  =
= 0,02 =
gr = 0,02 x 40 = 0,8
e.       Kelompok V
Diketahui
Gr NaCl    = 2,5
V               = 100 mL
M NaOH   = 0,15
Mr NaOH  = 40
Ditanya
%massa     = …?
Gr NaOH   = …?
Penyelesaian
%massa =  100 =  100 = 2,5
M =  
= 0,15 =  
= 0,15 = 10 x
=  =
= 0,015 =
gr = 0,015 x 40 = 0,6
f.       Kelompok VI
Diketahui
Gr NaCl    = 3
V               = 100 mL
M NaOH   = 0,1
Mr NaOH  = 40
Ditanya
%massa     = …?
Gr NaOH   = …?
Penyelesaian
%massa =  100 =  100 = 3
M =  
= 0,1 =  
= 0,1 = 10 x
=  =
= 0,01 =
gr = 0,01 x 40 = 0,4
2.      Pengenceran
a.       Membuat larutan 50 mL HCl 3 M dari HCl 37% (pekat)
Diketahui
% massa = 37%
d             = 1,19 g/mL
Mr          = 36,5
Ditanya
          = …?
           = …?
 =
=
=  = 12,06
 =  =  = = 12,43 mL
b.      Hubungan Pengenceran Persen (%)
Membuat 50 mL alkohol 70% (v/v) dari alkohol 95% (v/v) yang tersedia
Diketahui
 = 50 mL
 = 70%
 = 95%
Ditanya
 = …?
 =   =  = = 73,68 mL
G.    Pembahasan
Dari angka-angka kiata dapat mencari dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Kita membuat kosentrasi persen berat, %(b/b) dan molaritas dengan menggunakan data yang telah tersedia di dalam tabel, untuk mencari %massa kami menggunakan rumus %massa =  100 dimana gr = massa NaCl dan V = volume larutan (dalam mL)  . Kemudian kami mencari gr NaOH dengan menggunakan rumus M = M =   dimana M = molaritas zat, gr = gram NaOH yang dicari, dan Mr = massa molekul relative dari NaOH. Dan kami menimbang sejumlah zat yang telah kami hitung sebelumnya. Kemudian kami melarutkan ke dalam labu takar 100 mL sejumlah zat yang telah kami timbang.
Untuk menghitung pengenceran, dimana saya menghitung hubungan pengenceran molar (M) dan hubungan pengenceran persen (%). Untuk menghitung pengenceran molar terlebih dahulu kami membuat larutan HCl 50 mL 3 M dari HCl 37% (pekat), kemudian kami mencari   dengan menggunakan rumus  =  dimana,  = molaritas larutan HCl pekat, d = massa jenis larutan induk, Mr = massa molekul relatif HCl pekat, dan %massa = presentase HCl pekat yaitu 37%, kemudian melakukan pengenceran dengan menggunakan persamaan
V1 x M1 = V2 x M2, dimana V1 = volume HCl pekat yang akan kita perlukan untuk diencerkan, M2 = molaritas larutan HCl pekat, V2 = volume larutan yang akan kita buat, dan M2 = kosentrasi larutan yang akan kita buat. Dari persamaan itu maka, untuk mengetahui V1 = .
Hubungan pengenceran persen hubungan matematis yang diterapkan V1 x P1 = V2 x P2 , dimana V = volume cairan dan P = persentase dalam %(v/v), sedangkan untuk kadar persen dalam %(b/b), digunakan persamaan V1 x P1 x bj1 = V2 x P2 x bj2, dimana V = volume cairan, P = presentase dalam %(b/b), dan bj = massa jenis cairan. Dalam praktikum kami membuat 50 mL alkhol 70%(v/v) dari alcohol 95%(v/v) yang tersedia, dan menentukan V1 dengan persamaan  =  .

H.    Simpulan
Persamaan hubungan molar hamper sama dengan persamaan pengenceran persen yang membedakan adalah persamaan molar menggunakan mol dari suatu zat,sedangkan persamaan persen menggunakan persen volume dan persen massa dari suatu zat.

DAFTAR PUSTAKA

JR, R.A. Day & A.L. Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. 
      Jakarta: Erlangga.
HAM, Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi
      Aksara.
S, Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung: ITB.

























0 komentar:

Poskan Komentar